Minggu, 24 Juni 2012

Belajar membaca (lagi)

Apa yang saya lakukan sekarang kalau sedang tidak ada kegiatan? Jawabannya adalah membaca. Hohoho... teman2 yang mengenal saya sejak dulu pasti tidak percaya jawaban itu. Jujur saja, sejak SD sampai lulus kuliah saya amat sangat malas membaca. Kalaupun membaca paling hanya baca komik atau pada saat mau ujian saja. Selebihnya? Keluyuran ga jelas :p

Tapi semua berubah di awal 2009, saat dimana saya memutuskan untuk menjadi freelance designer. Saat itu saya sangat membutuhkan banyak asupan ilmu untuk memperkuat karakter dan memperluas wawasan. Maklum saja karena saat itu saya menjadi bos maupun anak buah sekaligus, jadi selain menjadi designer saya harus bisa menjadi marketer, konsultan, motivator diri, sampai memanage keuangan saya sendiri untuk bisa hidup sebagai freelancer. Ya, waktu itu saya benar-benar sendirian :)

Nah, sejak itu saya mulai sering ke gramedia untuk mencari buku yang cocok dengan kondisi saya saat itu (sambil baca gratis tentunya... hehehe)... dan sampailah saya menemukan buku karya Ippho Santosa yang cara pembahasannya sangat mudah dicerna untuk orang yang baru belajar membaca lagi seperti saya. Inilah awal dimana saya jadi “terprovokasi” untuk terus membaca.

Penulis yang menginspirasi saya 1: Ippho Santosa 
 

Hot Marketing (2008) karya Ippho Santosa, adalah buku marketing/branding pertama yang saya baca. Ok, dari segi desain cover bukunya memang biasa saja, namun isinya sangat membantu saya saat itu. Selain itu pembahasannya sangat mudah dimengerti dan mudah untuk diaplikasikan.

Saya tidak menerima rekomendasi mengenai buku ini dari siapapun sebelumnya. Saya menemukannya sendiri dan langsung tertarik dengan karakter sang penulis – Ippho Santosa – dalam menyampaikan gagasannya. Tulisannya benar-benar segar, cerdas, lincah, liar, nakal, kreatif, cenderung nyeleneh dan konyol (meski terkadang jayus :p). Sang penulis mampu menyampaikan hal-hal berat dengan cara yang ringan sekaligus sampai bisa membuat pembacanya cengengesan sendiri walaupun sarat dengan teori.

Sejak itu saya memburu karya-karya nya yang lain, seperti buku “10 jurus terlarang (2007)”, “13 wasiat terlarang (2008)”, “marketing is bullshit (2009)” sampai karyanya yang terbaru, yaitu “7 keajaiban rezeki (2010)” dan “percepatan rezeki (2011)”.

Sekedar info saja, ippho santosa adalah seorang marketer dan motivator bisnis yang berbasis otak kanan, entrepreneur yang sangat cerdas, spontan dan nyeleneh. Bahkan 2 bukunya yang terbaru beliau mampu menggabungkan unsur bisnis dan agama islam tanpa membicarakannya secara agamis namun langsung masuk inti kehidupan yaitu ke Tuhan.

Selanjutnya saya jarang sekali menemukan buku bisnis yang orientasinya “Bisnis” dan “Tuhan” sekaligus yang nyeleneh tapi relevan seperti ini. Benar-benar cerdas secara emosional maupun spiritual. Meski kemudian saya mulai berani membaca buku-buku sejenis lain yang “agak” berat, namun tetap saja saya tidak akan absen mengkonsumsi karya-karya Ippho Santosa selanjutnya.

Penulis yang menginspirasi saya 2: Budiman Hakim
 

Masih di tahun yang sama saya juga melirik buku “Lanturan tapi Relevan” karya Budiman Hakim. Sebenarnya sejak masih kuliah dosen periklanan saya sudah merekomendasikan buku ini. Tapi sayangnya waktu itu saya tidak begitu mempedulikannya. Namun pada tahun 2009 saya malah baru membacanya, padahal buku ini sudah direkomendasikan ke saya pada tahun 2005. Telat banget yak! Hehehe... well, better late than never :p

Budiman Hakim adalah seorang creative director sekaligus copywriter agency periklanan MACS909 yang sangat produktif. Di sela-sela kesibukannya beliau masih sempat menulis buku. Yang menarik perhatian saya sudah tentu cara penyampaian gagasannya donk. Buku “Lanturan tapi Relevan (2005)” dan “ngobrolin iklan yuk! (2008)” membahas tentang seluk-beluk dunia periklanan yang terjadi pada saat itu. Mulai dari membuat konsep ide kreatif sampai membahas kondisi industrinya ditambah lagi cerita-cerita pribadi si penulis yang dishare dengan gamblang di kedua buku tersebut. Semua dikemas dengan gaya “ngobrol” sehingga semua penjelasan yang pada dasarnya rumit jadi lebih mudah dicerna oleh siapapun.

Untuk buku “Sex After Dugem (2009)” dan “Si Muka Jelek (2010)” lebih mengarah ke catatan pribadi si penulis dalam pengembaraan hidupnya. Inilah yang menarik. Kehidupan pribadi seorang Budiman Hakim sangat extraordinary. Selain itu sang penulis menceritakan segala kegelisahannya dengan gaya cerita yang unik, lucu, kaya warna, jujur, polos, sontoloyo dan sekaligus menyentuh.

Saya banyak sekali mendapatkan inspirasi dari segala kisah dalam kedua buku ini. Terutama cerita menghadapi berbagai macam orang “aneh” mulai dari menjaga pemadat gila karena balas budi, pusingnya mempunyai staff gay yang cengeng dan sotoy, sampai cara menghadapi teror dari kyai. Hebatnya, selalu ada hikmah seaneh dan serumit apapun masalah yang dihadapi (meski penulisnya sendiri mengaku tidak bermaksud begitu... hehehe).

Penulis yang menginspirasi saya 3: Fahd Djibran
 

Sebenarnya saya tidak suka membaca novel fiksi ataupun cerpen. Saya lebih suka membaca kisah-kisah non fiksi alias yang berdasarkan kisah nyata.

Di tahun 2010, saya dan beberapa teman saya mulai sering menghadiri taping acara kick andy di grand studio metro tv. Yup, apalagi kalau tujuannya bukan buku (gratis lagi :p). Di sinilah saya mendapatkan buku berjudul “Rahim: sebuah dongeng kehidupan (2010)” karya Fahd Djibran. Sejak membaca karya inilah saya selalu memburu karya-karya Fahd Djibran yang selanjutnya maupun yang terdahulu.

Tulisan-tulisan Fahd sangat lembut, puitis, kritis, romantic, indah, dan sangat-sangat-sangat menyentuh hati meskipun pembahasannya hal-hal yang cukup berat seperti filsafat dan agama sekalipun. Yang menarik, umumnya tulisannya merupakan puzzle-puzzle pikiran yang membuat pembaca perlu menemukan kebenarannya sendiri karena tulisannya memang rentan dengan hal-hal yang ambigu (terutama buku “yang galau, yang meracau (2011)) dan memerlukan pikiran yang terbuka untuk menikmatinya.

Favorit saya adalah buku “Menatap Punggung Muhammad (2010)”, jujur saja saya belum pernah membaca buku tentang Nabi Muhammad seindah dan seunik ini. Buku ini memberikan cara pandang baru bagi pembacanya (yang muslim maupun non-muslim) mengenai sosok Muhammad – baik sebagai seorang manusia maupun sebagai seorang Nabi.

Ups, berhubung tulisan ini bukan review buku mari langsung lanjut saja ke penulis berikutnya :)

Penulis yang menginspirasi saya 4: Arvan Pradiansyah
 

Sama seperti awal saya mengenal karya Fahd Djibran, saya mengenal nama Arvan Pradiansyah juga dari taping acara Kick Andy di grand studio Metro tv. Buku yang dibagikan saat itu berjudul “You are not alone (2010)”.

Awalnya juga saya pikir ini adalah penulis motivasi seperti pada umumnya, namun ternyata tidak. Pak Arvan ini memberikan paparan dengan jelas dan logis apa itu sebenarnya kebahagiaan. Umumnya motivator adalah memberi motivasi kesuksesan namun bukan kebahagiaan. Pertanyaan saya yang dahulu sering terngiang-ngiang di kepala mengenai apa itu kebahagiaan terjawab dengan sempurna lewat karya-karya beliau.

Oke jujur saja sebelumnya saya sering melihat beberapa buku tersebut di toko buku jauuhh sebelum acara kick andy. Namun saat itu saya tidak tertarik sama sekali dan cenderung menganggap “bullshit” sewaktu melihat covernya (yang jujur saja memang tidak menarik... hehehe). Namun setelah saya membaca buku “you are not alone” dari kick andy saya langsung ketagihan dengan paparan yang dijelaskan oleh buku-buku tersebut dan memburu karya-karya sebelumnya (saat itu buku “you are not alone” adalah buku ke 5 dan terbaru dari Pak Arvan).

Semua penjelasannya yang simple saya sesuaikan dengan berbagai macam pengalaman pribadi maupun teman2 saya mengenai kebahagiaan, dan hasilnya SUPER... menurut saya lebih super dari Mario Teguh malah... hahaha... karena ternyata untuk bahagia tidak serumit yang saya bayangkan. Malahan untuk meraih kebahagiaan sebenarnya lebih mudah daripada meraih kesuksesan. Setelah membaca karya-karya Pak Arvan komentar saya adalah: “Anjrittt... ternyata banyak teori-teori bullshit diluar sana yang membuat banyak orang tidak bahagia”.

Meskipun secara pribadi saya tidak mengenal Pak Arvan, semoga Pak Arvan dan keluarga diberikan kebahagiaan lahir-batin dan dunia-akhirat atas karya-karyanya ini :)

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Yah begitulah, sebenarnya saat ini pun saya belum bisa dibilang suka baca, karena saya sebenarnya bukan suka baca, tapi baca yang saya suka... klo ga suka yang ya ga dibaca :p Baru sadar dulu ngapain aja ya baru sekarang mulai baca... hahaha... tapi setelah ini mungkin saya akan mencoba belajar menulis, doain ya :)

Sabtu, 26 Juni 2010

Let's support fairplay game

Sudah lama juga saya tidak bereksplorasi visual seperti ini karena waktu dan tenaga yang terkuras oleh kegiatan sehari-hari. Sampai suatu hari saya iseng mencoba kemampuan saya dalam hal memotret dan pergi ke taman prasasti bersama seorang teman.

Sesampainya di sana ternyata ada komunitas fotografi yang sedang hunting. Dan kebetulan mereka membawa beberapa orang model yang style-nya dipilihkan dengan suasana worldcup. Yup, bisa ditebak bahwa saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung bergabung dengan mereka ^^

Saya akui bahwa saya memang belum terlalu mahir dalam menggunakan kamera. Namun setelah saya bereksperimen dengan kamera, angle dan dengan berbagai pose-pose sang model yang cukup “hot”, saya jadi langsung terpikir bagaimana seandainya kalau mereka berada dalam studio dan difoto dengan gaya “high touch visual”.

Karena foto asli berada di prasasti sedangkan dalam kepala saya mereka berada di studio, sudah pasti eksekusinya menggunakan photoshop tercinta, jatuhnya sih jadi digital imaging… hehehe… padahal gaya “high touch visual” biasanya semua komposisi serta bentuk objek, warna dan cahaya dilayout sedemikian rupa secara manual sehingga hasil akhirnya berada di kamera (paling ada sedikit editan di photoshop kalau diperlukan). Gaya visual seperti ini memang belum terlalu populer di Indonesia, tapi saya ingin sekali mencobanya.

Nah, diantara foto-foto yang ada, akhirnya saya pilih pose mereka yang dirasa paling cocok untuk disesuaikan dengan konsep Worldcup yang ada dalam kepala saya. Ditambah dengan boneka si imut Zakumi sebagai model dan selaku mascot piala dunia kali ini. Beberapa snapshot, foto asli sampai perbandingan dengan hasilnya bisa dilihat pada gambar di bawah.

Hasil akhirnya diberi kalimat “Let’s support fairplay game” agar tampak menggambarkan dua orang wanita penggemar sepak bola yang sangat mendukung pertandingan yang fair. Ditambahkan juga gambar dan elemen grafis pendukung untuk memberi suasana festive yang meriah, semeriah suasana perayaan worldcup di seluruh dunia yang terlihat dalam satu gambar ^^

Walaupun gambar ini bersifat eksperimen, dan dengan eksekusi “high touch visual” yang masih akal-akalan, tapi saya merasa cukup puas melihat hasilnya.

Jumat, 11 September 2009

Alia


Karya ini adalah saat dimana untuk pertama kalinya saya menggambar lagi setelah sekian lama tidak menggambar. Entah kenapa tiba-tiba waktu itu tangan saya "gatal" ingin menggambar lagi. Kemudian terpilihlah karakter dari komik Alia ini sebagai "korban" :P

Komik Alia menceritakan tentang ratu adil yang apabila tidak muncul akan mengakibatkan kerusuhan di seluruh kota. Karena memang cerita ini belum berakhir maka saya mencoba membayangkan saat kerusuhan itu terjadi, dan menggambarkan ekspresi para karakter alia yang terlihat emosional sehingga memperlihatkan bahwa mereka sedang terlibat dalam kerusuhan tersebut.

Kamis, 13 Agustus 2009

@ipda09

Poster ini saya buat untuk lomba ipda09 dengan tema nilai luhur bangsa dan dipamerkan di stand IP pada acara fgd expo 2009 bersama 24 karya finalis lainnya.

Untuk visual dalam poster ini secara simbolis mencoba menterjemahkan arti kata bhinneka tunggal ika dengan menggunakan kumpulan lambang hati (cinta) berwarna-warni (melambangkan perbedaan) yang membentuk burung garuda Indonesia sebagai simbol nilai luhur bangsa. Artinya bahwa Indonesia terbentuk karena rasa kebersamaan (persatuan) yang dimiliki oleh rakyatnya yang saling peduli satu sama lain meskipun terdapat banyak perbedaan.

Kemudian ada beberapa lambang hati yang menyebar terpisah diartikan sebagai orang-orang yang individualis dan cuek terhadap sesamanya dan berharap agar mereka mau kembali bergabung dengan yang lainnya. Karena itulah diberikan kalimat “tidakkah kita merindukan kebersamaan” sebagai pertanyaan untuk membuat kita sedikit merenung tentang kebersamaan kita terhadap orang di sekeliling kita.

Sayangnya Indonesia terlalu beragam untuk dipersatukan sehingga eksekusi visual yang terlihat 'dreamy' dikarenakan pertanyaan pribadi saya yang sedikit pesimis tentang apakah Indonesia benar-benar bisa dipersatukan atau tidak. Kadang suami-istri yang katanya telah dipersatukan saja sering cekcok apalagi Indonesia yang jumlah rakyatnya 'bejibun', udah gitu beda-beda lagi.

Alya & Kalin

Sebenernya saudara sepupu saya udah minta editin foto anaknya (Alya & Kalin) ini sejak mereka berdua masih orok. Tapi entah kenapa saya lupa sama sekali sama permintaan itu.

Sampe akhirnya awal taun baru 2009 mereka sekeluarga dateng dan sepupu saya tiba2 nagih permintaannya. Sampe dia bilang, "mana san fotonya? katanya mau dieditin, ampe anak gue udah gede2 masih blom juga dikerjain". Saya malah baru inget lagi pas ditanya begitu... hahaha... maap deh.

Karena mereka cuma nginep 1 malam ya udah langsung difotoin deh 2 bocah ini. Ternyata susah juga loh ngeluarin karakter asli mereka di depan kamera. Si kakak (Alya) malah jaim banget. Si ade (Kalin) malah ngupil mulu selama sesi pemotretan (baru tau ada orang yang ngupil mulu klo grogi).

Akhirnya dari sekian banyak foto yang diambil cuma ini yang saya anggap bagus (mungkin saya emang bukan fotografer yang baik... T_T). Tapi hasilnya lumayan lucu kaaan... hehehe...