BINUS DUATHLON merupakan perayaan ulang tahun yayasan bina nusantara yang ke-31. Uniknya dalam event ini binus mengambil tema yang tidak umum dilakukan institusi pendidikan pada umumnya, yaitu Duathlon. Awalnya saya merasa asing mendengar kata duathlon sampai pada akhirnya saya di ”cemplung” kan menjadi salah satu panitia promosinya. Kata ini memang masih kurang populer di kalangan awam masyarakat Indonesia. Yang saya tau duathlon merupakan gabungan perlombaan olah raga lari dan sepeda.
Di Indonesia sendiri masih sangat jarang diadakan perlombaan dengan konsep seperti ini. Binus sebagai institusi pendidikan berani mengambil tema yang diluar kebiasaannya untuk masuk ke dalam dunia olah raga. Sebenarnya binus duathlon ini dirancang untuk fun dan seru-seruan saja dan bukan untuk lomba. Maksudnya biar agak beda aja.. hehehe. Namun sejak pihak atasan memasukkan tagline “spirit of competitiveness” semuanya menjadi rancu dan terjadi misskom yang pada akhirnya menjadikan banyak audience menganggap ini beneran lomba.
Idealisme dan realita memang tak selalu sejalan. Poster promosi pada awalnya saya buat rapi, namun setelah diacak-acak untuk alasan “marketing” malah layoutnya jadi terlihat crowded. Yup karena para panitianya sendiri galau setengah mati dalam menentukan kontennya, dan saya otomatis tertimpa kegalauan ini... hehehe. Pada dasarnya sih memang banyak sekali yang harus diurus dan dipikirkan panitia dalam menyelenggarakan event ini,. Untungnya dari awal saya buat desain yang simple jadi ga terlalu berat beban mental di saya yang mengharuskan mengacak-acak desain saya sendiri :p Ada banyak sekali materi desain yang dibuat dan semuanya diminta selesai dalam waktu singkat. Beberapa contohnya seperti gambar di bawah ini.
Oke, prosesnya sangat panjang kalau saya ceritain semua. Jadi langsung ke acaranya aja yuk. Acara utama dari binus duathlon ini adalah lari 5K dan sepeda 15K. Para panitia sudah stand by di lokasi sejak jam 4 pagi di JWC campus. Ada yang kurang tidur dan ada yang memang gak tidur... hehehe... semua demi terselenggaranya event ini. Berikut Rute Larinya :
Rute Sepeda:
Selain acara utama juga ada acara hiburan seperti pertunjukan capoeira dari UKM binus, beberapa music performance (salah satunya bisa dilihat di sini), dan polygon free style.
Oiya sebelum acara Binus duathlon berlangsung, kami juga sempat mengadakan pre-event dengan mencoba melakukan flashmob di Gelora Bung Karno Senayan. Flashmob di sini sifatnya hanya lucu-lucuan dan hanya terkumpul 50 orang saja yang terdiri dari karyawan dan mahasiswa binus. Semua itu menyenangkan karena seumur-umur saya pribadi baru kali ini melakukan flashmob... hehehe Pada akhirnya acara ini berlangsung dengan meriah dan sukses. Ada sekitar 800-an orang peserta yang terkumpul untuk meramaikan acara binus duathlon ini. Namun kami para panitia mengakui bahwa memang perlu perbaikan disana-sini. Semua memang tidak ada yang sempurna, tapi setidaknya kami sudah berusaha melakukan semaksimal mungkin yang kami bisa :)
Minggu, 22 Juli 2012
Rabu, 11 Juli 2012
Clevo Boy
Sebenarnya saya mengerjakan ini untuk membantu teman lama saya semasa kuliah, seorang freelance designer yang gila kerja. Saat itu dia sedang overload job design… eh ga tau juga, sepertinya dia selalu overload job karena kerjaannya emang ga di manage jadinya keteteran sendiri. Yah bagus juga sih dia banyak kelebihan kerjaan sementara di luar sana banyak pengangguran jadi ya harus bersyukur juga :p
Nah waktu itu saya bantu menghandle projek dari Clevo – produk minuman susu anak-anak – dengan deadline yang cukup mepet. Dia ga sanggup karena dia juga sedang dikejar beberapa deadline lainnya, jadi saya bantu kerjakan setiap pulang kerja.
Briefnya sederhana, klien ingin meredesign mascotnya yang disebut Clevo Boy. Sebelumnya Clevo Boy berwujud anak laki-laki dengan bentuk yang harafiah, dan mereka ingin wujudnya diubah menjadi lebih unik. Hasil riset klien menyatakan bahwa audience mereka yang notabene anak-anak hanya mampu mengingat Clevo Boy dari bentuk matanya saja (bentuk matanya bulat dan besar). Jadi itulah yang dipertahankan dalam bentuknya yang sekarang.
Wujudnya sendiri dibuat kotak dengan pemikiran sederhana bahwa packaging produknya kotak… hehehe. Jadi packaging tersebut di”hidup”kan menjadi sebuah karakter Clevo itu sendiri dan nantinya bisa dibuat macam-macam sesuai dengan karakter anak-anak pada umumnya. Untuk samplenya klien meminta untuk menggambarkan 8 kegiatan mengenai kecerdasan anak yang aktif. Saya mengajukan 2 alternatif dan terpilihlah sketsa di bawah ini.
Prosesnya sangat sederhana dan ga perlu pusing-pusing, soalnya saya juga mengerjakannya sepulang kerja jadi males mikirin yang ribet-ribet… hehehe. Niat awalnya juga karena membantu teman yang sedang “mabok” kerjaan jadi itung-itung amal lah. Lagipula ini juga bisa sebagai sarana refreshing saya yang setiap hari mengerjakan hal-hal berbau layout, event, marketing dan branding.
Kadang-kadang perlu juga menerima projek di luar dunia rutinitas supaya ga bosan. Toh dunia desain sangat luas dan desain bisa masuk ke dalam bidang apapun. Jadi manfaatkan saja :)
Nah waktu itu saya bantu menghandle projek dari Clevo – produk minuman susu anak-anak – dengan deadline yang cukup mepet. Dia ga sanggup karena dia juga sedang dikejar beberapa deadline lainnya, jadi saya bantu kerjakan setiap pulang kerja.
Briefnya sederhana, klien ingin meredesign mascotnya yang disebut Clevo Boy. Sebelumnya Clevo Boy berwujud anak laki-laki dengan bentuk yang harafiah, dan mereka ingin wujudnya diubah menjadi lebih unik. Hasil riset klien menyatakan bahwa audience mereka yang notabene anak-anak hanya mampu mengingat Clevo Boy dari bentuk matanya saja (bentuk matanya bulat dan besar). Jadi itulah yang dipertahankan dalam bentuknya yang sekarang.
Wujudnya sendiri dibuat kotak dengan pemikiran sederhana bahwa packaging produknya kotak… hehehe. Jadi packaging tersebut di”hidup”kan menjadi sebuah karakter Clevo itu sendiri dan nantinya bisa dibuat macam-macam sesuai dengan karakter anak-anak pada umumnya. Untuk samplenya klien meminta untuk menggambarkan 8 kegiatan mengenai kecerdasan anak yang aktif. Saya mengajukan 2 alternatif dan terpilihlah sketsa di bawah ini.
Prosesnya sangat sederhana dan ga perlu pusing-pusing, soalnya saya juga mengerjakannya sepulang kerja jadi males mikirin yang ribet-ribet… hehehe. Niat awalnya juga karena membantu teman yang sedang “mabok” kerjaan jadi itung-itung amal lah. Lagipula ini juga bisa sebagai sarana refreshing saya yang setiap hari mengerjakan hal-hal berbau layout, event, marketing dan branding.
Kadang-kadang perlu juga menerima projek di luar dunia rutinitas supaya ga bosan. Toh dunia desain sangat luas dan desain bisa masuk ke dalam bidang apapun. Jadi manfaatkan saja :)
Kamis, 05 Juli 2012
Proyek Nostalgia
Biasanya menulis itu tergantung mood kan? Jadi kalau lagi ada mood tulisan akan mengalir deras. Nah saya bukan penulis, jadi meski ga ada mood saya mau coba maksain nulis postingan ini berdasarkan ingatan dan kenangan saja… hehehe. Dalam kasus ini ada 2 proyek yang sudah cukup lama namun saya ingin merasakan kembali feel pada saat saya mengerjakannya.
Proyek tersebut adalah pembuatan desain buku tahunan SMAN 90 (tahun 2008) dan SMAN 32 (tahun 2010). Uniknya kedua proyek tersebut berada dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Persamaannya? Saya adalah alumni dari kedua SMA tersebut… SMA-nya dua? Soal ini ada cerita tersendiri nih, tapi males nyeritain soalnya panjang… hehehe
Proyek Nostalgia 1: Buku Tahunan SMAN 90 (2008)
Saya mendapat proyek ini dari adik saya yang saat itu masih duduk di kelas 3 SMA. Itupun dia dan teman-teman panitianya datang ke saya secara tiba-tiba dan saya “ditodong” untuk mengerjakannya karena buku tahunan ini terancam tidak jadi dibuat. Loh kok?
Ternyata panitia pembuatan buku ini “ditipu” oleh agency yang sebelumnya menangani proyek ini. Mulai dari kerja mereka yang tidak professional, desain yang jelek, sampai urusan tetek bengek pun berantakan.
Saya diminta merapikan semua itu dalam waktu 2 minggu karena tidak ada waktu lagi. Mulai dari brief, perpindahan data dari agency itu ke saya, sampai urusan desain dan cetakan. Mengerjakan desain buku tahunan setebal sekitar 175 halaman sambil harus mengatur jadwal dan emosi labil para panitia yang masih SMA dan mengajari sedikit tentang desain dan cetakan dalam waktu 2 minggu bukan pekerjaan mudah buat saya. Namun karena adik saya sendiri yang meminta ya saya tidak sampai hati menolak karena itu buku tahunan dia juga. Kita semua tau bahwa buku tahunan itu kenangan sekali seumur hidup. Kasian juga kan…
Akhirnya saya sanggupi dan mendadak kamar tidur saya menjadi seperti kantor yang buka 24 jam. Garasi rumah saya menjadi seperti tempat parkir motor yang tiap hari adaa aja yang datang dan menginap untuk membantu pembuatan kontennya. Jadi selama 2 minggu itu saya tidak bisa keluar rumah karena kalo saya tidak ada mereka panik nyariin, ahh boro-boro keluar rumah, saya tidur saja sehari cuma 2 jam kok. Itupun karena ada yang minta waktu mengetik konten di computer saya sambil diskusi segala, jadi ada waktu untuk tidur namun dengan syarat kalau saya bangun harus sudah selesai kontennya. Begitu untuk setiap kelas. Jadi ada 9 kelas yang kepentingannya berbeda-beda dengan konten dan desain yang berbeda pula.
Mengapa mereka mengetik lagi? Bukannya harusnya sudah ada dari jauh-jauh hari? Ternyata semua datanya dipercayakan ke agency tersebut dan agencynya enggan memberikan data dan fotonya kembali. Kampret ye... Akhirnya terpaksa saya ajarin deh ketua panitianya sedikit kasar dan mengancam demi mendapatkan konten datanya kembali. Namanya anak SMA nurut aja lagi saya provokatorin. Tapi setelah terjadi sedikit keributan akhirnya data tersebut dapat diminta lagi.
Tapi memang ada beberapa konten baru yang harus mereka ketik. Alasan mereka ngetik di rumah saya pun banyak sekali. Ada yang ga sempet karena ekskul lah, ada yang harus les lah, ada yang ga dibolehin keluar rumah sama ortunya (jadi dia ngetik dirumah saya supaya bisa keluar rumah), wahh macem-macem. Yang seru adalah beberapa kali ada sesi curhat mulai jam 2 pagi sampe subuh. Banyak sekali cerita mereka mulai soal agency brengsek, debat soal desain, klo lulus mau kuliah ato kawin, ada yang nilai jeblok, sampe masalah parpol dan urusan cinta. Hahaha… seru sih rumah saya jadi rame tiap hari sampai ortu saya komentar klo malem ga bisa tidur gara-gara berisik.
Hmmm, saya ga bahas desain di sini karena saya hanya ingin bercerita. Tapi untuk desainnya sendiri mereka ingin desain yang retro dan agak-agak jadul. Meski tiap kelas punya tema dan selera yang berbeda-beda tapi secara umum mereka ingin ada feel jadulnya.
Pada akhirnya, deadline buku tahunan ini terkejar dan tepat 2 minggu saya bisa menyelesaikannya, meski kurang puas di bagian cover sih… hehehe… dan yang paling penting setelah dua minggu itu saya bisa bebas keluar rumah lagi yeaahhh. Para panitianya pun senang karena bukunya tidak jadi batal dengan hasil yang nggak malu-maluin :D
Tapi setelah 2 minggu crowded lalu tiba-tiba mendadak hilang rasanya sepi juga. Aneh ya. Yah begitulah, bagi agency desain buku tahunan yang kebetulan baca postingan ini jangan suka bo’ong-bo’ongin kliennya yak, karena klo nggak akan ada orang-orang yang terkena “musibah” sekaligus ”keberuntungan” seperti saya ini… hahahaha :p
Proyek Nostalgia 2: Buku Tahunan SMAN 32 (2010)
Nah kalau yang ini gak se-crowded kasus di atas. Proses kerjanya pun lebih rapi dan manusiawi, karena dalam kasus ini posisi saya sebagai orang yang membantu agency. Jadi saya mendapat proyek ini dari agency yang sering menangani buku tahunan. Kebetulan AE-nya adalah teman saya dan mengenal cara kerja saya. Mereka kekurangan designer untuk mengerjakan proyek ini.
Sebenarnya teman saya itu tau bahwa spesialis saya bukan di desain buku tahunan. Saya menerima tawaran itu karena saya alumni dari SMA tersebut. Hmm, sedikit banyak saya kangen dengan SMA ini. Soalnya dahulu jaman saya SMA masih belum direnovasi, kalo sekarang sudah direnovasi ulang dan jauh berbeda dibanding dulu. Yup cukup banyak perubahan yang terjadi.
Kali ini saya tidak memikirkan tetek bengek operasional atau urusan jadwal ketemu anak-anak panitianya karena semua itu sudah diatur. Jadi di sini saya dibantu oleh fotografer dan AE. Ini pertama kalinya saya presentasi desain buku tahunan secara formal di depan guru-guru dan anak-anak SMA yang jadi panitianya. Presentasinya berlangsung di ruang auditorium SMA 32 yang cukup bagus. Dulu jaman saya SMA belum ada tuh.
Brief yang mereka berikan adalah mereka ingin desain buku tahunan yang tidak memerlukan elemen grafis dan edit foto yang berlebihan. Mereka ingin yang natural saja, dan bukunya sendiri full foto. Meskipun natural tetap harus di edit donk, biar bagus kan. Mereka maunya edit yang tidak terlalu kelihatan photoshop banget. Teks juga kalau bisa dibuat formal saja tidak perlu aneh-aneh. Ok, ga masalah sih, malah gampang hehehe. Ya memang karakter anak-anaknya juga cuek dan apa adanya.
Untuk desain ga ada kesulitan yang berarti sama sekali. Jadi saya punya kesempatan memperhatikan hal-hal di luar itu. Yang membuat saya tertarik adalah kultur dan kehidupannya yang berbeda dibanding jaman saya dulu. Anak-anaknya jauh lebih berkembang, lebih kritis dan lebih modern. Apalagi setelah saya melihat guru-guru yang masih saya kenal dan mengenal saya. Sebagian besar masih mengajar di SMA itu, meskipun banyak wajah-wajah baru yang tidak saya kenal.
Saya jadi bertanya-tanya bahwa secepat inikah waktu? Rasanya baru kemarin saya meninggalkan bangku SMA. Padahal sudah hampir 10 tahun sejak meninggalkan mereka. Namun guru-guru ini tidak berubah sama sekali, masih tetap seperti dulu. Bedanya, mereka melihat saya tidak seperti dulu lagi.... hehehe… saya tidak dianggap anak kecil lagi oleh mereka, ya iyalah kan saya tumbuh :p
Nah dalam mengerjakan buku tahunan ini saya jadi dekat dengan anak-anaknya sampai cerita hal-hal yang personal sekalipun. Sama seperti cerita sebelumnya, saya jadi sering mendengar curhatan-curhatan khas anak SMA. Masih penuh impian, passion, idealis, dan cita-cita. Saya kangen juga dengan idealisme saya yang dulu sebelum terbentur dengan realita.
Yup, idealisme memang sering berseberangan dengan realita, namun bukan berarti idealisme itu harus “dibunuh”, menurut saya yang perlu “dibunuh” adalah ego. Idealisme tetap perlu dipertahankan untuk menunjukkan karakter kita yang menunjukkan bahwa kita berbeda dengan orang lain. Memang diperlukan trik tersendiri untuk mengkalibrasi idealisme dengan realita, dan barometernya menurut saya adalah sikon.
Misalnya pada cover buku tahunan ini, situasi dan kondisinya adalah foto di halaman sekolah pada malam hari, dan sekolah tidak boleh menyalakan lampu kecuali lantai satu karena alasan tertentu. Fotografer tidak membawakan lampu dan hanya mengandalkan lampu blitz. Ya udah lampunya menggunakan lampu motor, jadi keliatan rada kuning2 gimana gitu. Tetap harus diusahakan sebaik-baiknya supaya bagus. Biar begitu kita tetep have fun kok, jadi hajar ajaaa… hahaha
Dari segi idealisme saya sih sebenarnya konsep ini agak kurang, namun tidak terlalu saya pikirkan karena saya menerima proyek ini juga iseng-iseng ingin tau SMA ini sekarang seperti apa. Saya menikmati tukar pikiran mengenai cerita saya di masa lalu dan cerita mereka di masa kini. Ceritanya memang berbeda namun mempunyai feel yang sama. Sedikit mengenang masa lalu di sela-sela pekerjaan mengasyikkan juga. Apalagi kalau hal itu menyenangkan untuk dikenang. Yah pokoknya begitulah :)
Proyek tersebut adalah pembuatan desain buku tahunan SMAN 90 (tahun 2008) dan SMAN 32 (tahun 2010). Uniknya kedua proyek tersebut berada dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Persamaannya? Saya adalah alumni dari kedua SMA tersebut… SMA-nya dua? Soal ini ada cerita tersendiri nih, tapi males nyeritain soalnya panjang… hehehe
Proyek Nostalgia 1: Buku Tahunan SMAN 90 (2008)
Saya mendapat proyek ini dari adik saya yang saat itu masih duduk di kelas 3 SMA. Itupun dia dan teman-teman panitianya datang ke saya secara tiba-tiba dan saya “ditodong” untuk mengerjakannya karena buku tahunan ini terancam tidak jadi dibuat. Loh kok?Ternyata panitia pembuatan buku ini “ditipu” oleh agency yang sebelumnya menangani proyek ini. Mulai dari kerja mereka yang tidak professional, desain yang jelek, sampai urusan tetek bengek pun berantakan.
Saya diminta merapikan semua itu dalam waktu 2 minggu karena tidak ada waktu lagi. Mulai dari brief, perpindahan data dari agency itu ke saya, sampai urusan desain dan cetakan. Mengerjakan desain buku tahunan setebal sekitar 175 halaman sambil harus mengatur jadwal dan emosi labil para panitia yang masih SMA dan mengajari sedikit tentang desain dan cetakan dalam waktu 2 minggu bukan pekerjaan mudah buat saya. Namun karena adik saya sendiri yang meminta ya saya tidak sampai hati menolak karena itu buku tahunan dia juga. Kita semua tau bahwa buku tahunan itu kenangan sekali seumur hidup. Kasian juga kan…
Akhirnya saya sanggupi dan mendadak kamar tidur saya menjadi seperti kantor yang buka 24 jam. Garasi rumah saya menjadi seperti tempat parkir motor yang tiap hari adaa aja yang datang dan menginap untuk membantu pembuatan kontennya. Jadi selama 2 minggu itu saya tidak bisa keluar rumah karena kalo saya tidak ada mereka panik nyariin, ahh boro-boro keluar rumah, saya tidur saja sehari cuma 2 jam kok. Itupun karena ada yang minta waktu mengetik konten di computer saya sambil diskusi segala, jadi ada waktu untuk tidur namun dengan syarat kalau saya bangun harus sudah selesai kontennya. Begitu untuk setiap kelas. Jadi ada 9 kelas yang kepentingannya berbeda-beda dengan konten dan desain yang berbeda pula.
Mengapa mereka mengetik lagi? Bukannya harusnya sudah ada dari jauh-jauh hari? Ternyata semua datanya dipercayakan ke agency tersebut dan agencynya enggan memberikan data dan fotonya kembali. Kampret ye... Akhirnya terpaksa saya ajarin deh ketua panitianya sedikit kasar dan mengancam demi mendapatkan konten datanya kembali. Namanya anak SMA nurut aja lagi saya provokatorin. Tapi setelah terjadi sedikit keributan akhirnya data tersebut dapat diminta lagi.
Tapi memang ada beberapa konten baru yang harus mereka ketik. Alasan mereka ngetik di rumah saya pun banyak sekali. Ada yang ga sempet karena ekskul lah, ada yang harus les lah, ada yang ga dibolehin keluar rumah sama ortunya (jadi dia ngetik dirumah saya supaya bisa keluar rumah), wahh macem-macem. Yang seru adalah beberapa kali ada sesi curhat mulai jam 2 pagi sampe subuh. Banyak sekali cerita mereka mulai soal agency brengsek, debat soal desain, klo lulus mau kuliah ato kawin, ada yang nilai jeblok, sampe masalah parpol dan urusan cinta. Hahaha… seru sih rumah saya jadi rame tiap hari sampai ortu saya komentar klo malem ga bisa tidur gara-gara berisik.
Hmmm, saya ga bahas desain di sini karena saya hanya ingin bercerita. Tapi untuk desainnya sendiri mereka ingin desain yang retro dan agak-agak jadul. Meski tiap kelas punya tema dan selera yang berbeda-beda tapi secara umum mereka ingin ada feel jadulnya.
Pada akhirnya, deadline buku tahunan ini terkejar dan tepat 2 minggu saya bisa menyelesaikannya, meski kurang puas di bagian cover sih… hehehe… dan yang paling penting setelah dua minggu itu saya bisa bebas keluar rumah lagi yeaahhh. Para panitianya pun senang karena bukunya tidak jadi batal dengan hasil yang nggak malu-maluin :D
Tapi setelah 2 minggu crowded lalu tiba-tiba mendadak hilang rasanya sepi juga. Aneh ya. Yah begitulah, bagi agency desain buku tahunan yang kebetulan baca postingan ini jangan suka bo’ong-bo’ongin kliennya yak, karena klo nggak akan ada orang-orang yang terkena “musibah” sekaligus ”keberuntungan” seperti saya ini… hahahaha :p
Proyek Nostalgia 2: Buku Tahunan SMAN 32 (2010)
Nah kalau yang ini gak se-crowded kasus di atas. Proses kerjanya pun lebih rapi dan manusiawi, karena dalam kasus ini posisi saya sebagai orang yang membantu agency. Jadi saya mendapat proyek ini dari agency yang sering menangani buku tahunan. Kebetulan AE-nya adalah teman saya dan mengenal cara kerja saya. Mereka kekurangan designer untuk mengerjakan proyek ini.
Sebenarnya teman saya itu tau bahwa spesialis saya bukan di desain buku tahunan. Saya menerima tawaran itu karena saya alumni dari SMA tersebut. Hmm, sedikit banyak saya kangen dengan SMA ini. Soalnya dahulu jaman saya SMA masih belum direnovasi, kalo sekarang sudah direnovasi ulang dan jauh berbeda dibanding dulu. Yup cukup banyak perubahan yang terjadi.
Kali ini saya tidak memikirkan tetek bengek operasional atau urusan jadwal ketemu anak-anak panitianya karena semua itu sudah diatur. Jadi di sini saya dibantu oleh fotografer dan AE. Ini pertama kalinya saya presentasi desain buku tahunan secara formal di depan guru-guru dan anak-anak SMA yang jadi panitianya. Presentasinya berlangsung di ruang auditorium SMA 32 yang cukup bagus. Dulu jaman saya SMA belum ada tuh.
Brief yang mereka berikan adalah mereka ingin desain buku tahunan yang tidak memerlukan elemen grafis dan edit foto yang berlebihan. Mereka ingin yang natural saja, dan bukunya sendiri full foto. Meskipun natural tetap harus di edit donk, biar bagus kan. Mereka maunya edit yang tidak terlalu kelihatan photoshop banget. Teks juga kalau bisa dibuat formal saja tidak perlu aneh-aneh. Ok, ga masalah sih, malah gampang hehehe. Ya memang karakter anak-anaknya juga cuek dan apa adanya.
Untuk desain ga ada kesulitan yang berarti sama sekali. Jadi saya punya kesempatan memperhatikan hal-hal di luar itu. Yang membuat saya tertarik adalah kultur dan kehidupannya yang berbeda dibanding jaman saya dulu. Anak-anaknya jauh lebih berkembang, lebih kritis dan lebih modern. Apalagi setelah saya melihat guru-guru yang masih saya kenal dan mengenal saya. Sebagian besar masih mengajar di SMA itu, meskipun banyak wajah-wajah baru yang tidak saya kenal.
Saya jadi bertanya-tanya bahwa secepat inikah waktu? Rasanya baru kemarin saya meninggalkan bangku SMA. Padahal sudah hampir 10 tahun sejak meninggalkan mereka. Namun guru-guru ini tidak berubah sama sekali, masih tetap seperti dulu. Bedanya, mereka melihat saya tidak seperti dulu lagi.... hehehe… saya tidak dianggap anak kecil lagi oleh mereka, ya iyalah kan saya tumbuh :p
Nah dalam mengerjakan buku tahunan ini saya jadi dekat dengan anak-anaknya sampai cerita hal-hal yang personal sekalipun. Sama seperti cerita sebelumnya, saya jadi sering mendengar curhatan-curhatan khas anak SMA. Masih penuh impian, passion, idealis, dan cita-cita. Saya kangen juga dengan idealisme saya yang dulu sebelum terbentur dengan realita.
Yup, idealisme memang sering berseberangan dengan realita, namun bukan berarti idealisme itu harus “dibunuh”, menurut saya yang perlu “dibunuh” adalah ego. Idealisme tetap perlu dipertahankan untuk menunjukkan karakter kita yang menunjukkan bahwa kita berbeda dengan orang lain. Memang diperlukan trik tersendiri untuk mengkalibrasi idealisme dengan realita, dan barometernya menurut saya adalah sikon.
Misalnya pada cover buku tahunan ini, situasi dan kondisinya adalah foto di halaman sekolah pada malam hari, dan sekolah tidak boleh menyalakan lampu kecuali lantai satu karena alasan tertentu. Fotografer tidak membawakan lampu dan hanya mengandalkan lampu blitz. Ya udah lampunya menggunakan lampu motor, jadi keliatan rada kuning2 gimana gitu. Tetap harus diusahakan sebaik-baiknya supaya bagus. Biar begitu kita tetep have fun kok, jadi hajar ajaaa… hahaha
Dari segi idealisme saya sih sebenarnya konsep ini agak kurang, namun tidak terlalu saya pikirkan karena saya menerima proyek ini juga iseng-iseng ingin tau SMA ini sekarang seperti apa. Saya menikmati tukar pikiran mengenai cerita saya di masa lalu dan cerita mereka di masa kini. Ceritanya memang berbeda namun mempunyai feel yang sama. Sedikit mengenang masa lalu di sela-sela pekerjaan mengasyikkan juga. Apalagi kalau hal itu menyenangkan untuk dikenang. Yah pokoknya begitulah :)
Langganan:
Komentar (Atom)


















